Monday, October 15, 2012

Ali bin Abu Thalib RA



Khalifah Keempat, Singa Allah Yang Dimuliakan Wajahnya Oleh Allah

Ketika Khalifah Uthman bin Affan ra wafat, warga Madinah dan tiga pasukan dari Mesir, Basrah dan Kufah bersepakat memilih Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah baru. Menurut riwayat, Ali sempat menolak pelantikan itu. Namun semua mendesak beliau untuk memimpin umat. Pembaiatan Ali pun berlangsung di Masjid Nabawi.
Nama beliau sebenarnya ialah Ali bin Abi Talib bin Abdul Mutalib bin Hasyim bin Abdul Manaf. Beliau dilahirkan pada tahun 602 M atau 10 tahun sebelum kelahiran Islam. Usianya 32 tahun lebih muda dari Rasulullah SAW. Saidina Ali merupakan sepupu dan merupakan menantu Baginda SAW melalui pernikahannya Fatimah. Beliau adalah orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan kanak-kanak. Beliau telah dididik di rumah Rasulullah dan ini menyebabkan beliau mempunyai jiwa yang bersih dan tidak  dikotori dengan naluri Jahiliyah.
Saidina Ali adalah salah seorang sahabat paling dekat dengan Rasul. Sewaktu kecil, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh Abu Thalib, datuknya yang juga ayah kepada Saidina Ali. Setelah berumah tangga dan melihat Abu Thalib hidup kekurangan, Nabi Muhammad SAW memelihara Ali di rumahnya. Ali dan Zaid bin Haritsah – anak angkat Nabi Muhammad SAW, adalah orang pertama yang memeluk Islam setelah Khadijah. Mereka selalu shalat berjamaah.
Kecerdasan dan keberanian Ali sangat menonjol dalam lingkungan Quraisy. Saat masih kanak-kanak, beliau telah menentang tokoh-tokoh Quraisy yang mencemuh Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah dan kaum Quraisy telah menghunus pedang untuk membunuhnya, Ali tidur di tempat tidur Nabi Muhammad SAW serta mengenakan mantel yang dipakai oleh Rasulullah.
Di medan perang, beliau adalah ahli tempur yang sangat disegani. Baik di perang Badar, Uhud hingga Khandaq. Namanya semakin sering dipuji setelah beliau berhasil menjebol gerbang benteng Khaibar yang menjadi pertahanan terakhir Yahudi. Menjelang Rasul menunaikan ibadah haji, Ali ditugasi untuk melaksanakan misi ketenteraan ke Yaman dan dilakukannya dengan baik.
Zaman Remaja
Setelah tiga tahun Dakwah secara sembunyi, Nabi menerima perintah Allah bahwa dia harus mengumumkan kepada publik risalah Islam, dan bahwa kaum kerabatnya yang terdekatlah menjadi pilihan pertama untuk Dakwah. Nabi yang mengundang Bani Hashim, sekitar empat puluh laki-laki. Setelah selesai jamuan, Nabi memberikan ucapan yang menceritakan bahwa dia telah dikunjungi oleh malaikat Jibril yang telah menyampaikan kepadanya perintah Allah bahwa baginda merupakan nabi akhir zaman. Dia mengatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa ia adalah Rasul yang diutuskan untuk mengajak seluruh ummat manusia untuk menyembah Allah.
Selanjutnya, lalu di akhir ucapan, Nabi menimbulkan pertanyaan, “Siapa di antara kita yang akan mendukung saya dalam tugas ini? Para tetamu semuanya diam dan tidak ada satu kata yang diucapkan. Ali bangkit dan berkata,”Wahai Muhammad, saya akan mendukung Anda!”
Nabi melihat ke arah Ali, dan terima kasih atas dukungannya. Nabi menanyakan pertanyaan yang sama untuk kedua dan ketiga kalinya tetapi, tidak satu dari tetamu menjanjikan dukungan. Setiap kali, Ali bangkit ia menawarkan dukungan istilah tegas. Sedangkan sejurus selepas itu pula, bangun Abu Lahab yang terus mengherdik dan menghina nabi.
Begitu juga kisahnya sewaktu hijrah dari Mekah ke Madinah. Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah dan kaum Quraisy telah menghunus pedang untuk membunuhnya, Ali tidur di tempat tidur Nabi Muhammad SAW serta mengenakan selimut yang dipakai oleh Rasulullah
Keluarga Saidina Ali
Pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khatab r.a. dan Sa’ad bin Mu’adz bersama-sama Rasul Allah s.a.w. duduk dalam masjid beliau. Pada kesempatan itu diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasul Allah s.a.w. Saat itu beliau bertanya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq r.a.: “Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah kepada Ali bin Abi Thalib?”
Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan kesediaanya. Ia beranjak untuk menghubungi Ali r.a. Sewaktu Ali r.a. melihat kedatangan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan tergopoh-gopoh dengan terperanjat ia menyambutnya, kemudian bertanya: “Anda datang membawa berita apa?”
Setelah duduk beristirahat sejenak, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. segera menjelaskan persoalannya: “Hai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian pula engkau adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Beberapa orang sahabat terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada beliau untuk dapat mempersunting puteri beliau. Lamaran itu oleh beliau semuanya ditolak. Beliau mengemukakan, bahwa persoalan puterinya diserahkan kepada Allah s.w.t. Akan tetapi, hai Ali, apa sebab hingga sekarang engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri beliau itu dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu.”
Mendengar perkataan Abu Bakar r.a. mata Ali r.a. berlinang-linang. Menanggapi kata-kata itu, Ali r.a. berkata: “Hai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang semulanya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa.”
Abu Bakar r.a. terharu mendengar jawaban Ali yang memelas itu. Untuk membesarkan dan menguatkan hati Ali r.a., Abu Bakar r.a. berkata: “Hai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan belaka!”
Setelah berlangsung dialog seperlunya, Abu Bakar r.a. berhasil mendorong keberanian Ali r.a. untuk melamar puteri Rasul Allah s.a.w.
Ketika bertemu Rasulullah dan di Tanya tentang maskahwin, lalu Ali menjawab, “Demi Allah”, jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang, “Anda sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak anda ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta.”
Akhirnya setelah persetujuan, sewaktu ijab kabul Rasul Allah s.a.w. mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya: “Bahwasanya Allah s.w.t. memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas dasar maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu.”
“Ya, Rasul Allah, itu kuterima dengan baik”, jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dalam pernikahan itu.
Rumah Tangga Sederhana
Dua sejoli suami isteri yang mulia dan bahagia itu selalu bekerja sama dan saling bantu dalam mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Mereka sibuk dengan kerja keras. Sitti Fatimah r.a. menepung gandum dan memutar gilingan dengan tangan sendiri. Ia membuat roti, menyapu lantai dan mencuci. Hampir tak ada pekerjaan rumah-tangga yang tidak ditangani dengan tenaga sendiri.
Rasul Allah s.a.w. sendiri sering menyaksikan puterinya sedang bekerja bercucuran keringat. Bahkan tidak jarang beliau bersama Ali r.a. ikut menyingsingkan lengan baju membantu pekerjaan Sitti Fatimah r.a.
Banyak sekali buku-buku sejarah dan riwayat yang melukiskan betapa beratnya kehidupan rumah-tangga Ali r.a. Sebuah riwayat mengemukakan: Pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. berkunjung ke tempat kediaman Sitti Fatimah r.a. Waktu itu puteri beliau sedang menggiling tepung sambil melinangkan air mata. Baju yang dikenakannya kain kasar. Menyaksikan puterinya menangis, Rasul Allah s.a.w. ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau menghibur puterinya: “Fatimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di akhirat kelak”
Riwayat lain mengatakan, bahwa pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. datang menjenguk Sitti Fatimah r.a., tepat: pada saat ia bersama suaminya sedang bekerja menggiling tepung. Beliau terus bertanya: “Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?”
“Fatimah! ” Jawab Ali r.a. Sitti Fatimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya menggiling tepung bersama Ali r.a.
Masih banyak catatan sejarah yang melukiskan betapa beratnya penghidupan dan kehidupan rumah-tangga Ali r.a. Semuanya itu hanya menggambarkan betapa besarnya kesanggupan Siti Fatimah r.a. dalam menunaikan tugas hidupnya yang penuh bakti kepada suami, taqwa kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.
Putera-puteri
Siti Fatimah r.a. melahirkan dua orang putera dan dua orang puteri. Putera-puteranya bernama Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Sedang puteri-puterinya bernama Zainab r.a. dan Ummu Kalsum r.a. Rasul Allah s.a.w. dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucu-cucunya.
Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya bagi umat Islam. Al Husein r.a. gugur sebagai pahlawan syahid menghadapi penindasan dinasti Bani Umayyah. Semangatnya terus berkesinambungan, melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang tegas dan seru di kalangan ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat Al Husein r.a. merupakan kekuatan penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah.
Di Medan Peperangan
Di medan perang, beliau adalah ahli tempur yang sangat disegani. Baik di perang Badar, Uhud hingga Khandaq. Namanya semakin sering dipuji setelah beliau berhasil menjebol gerbang benteng Khaibar yang menjadi pertahanan terakhir Yahudi. Menjelang Rasul menunaikan ibadah haji, Ali ditugasi untuk melaksanakan misi ketenteraan ke Yaman dan dilakukannya dengan baik.
Menjawat Sebagai Khalifah
Sebagai khalifah, beliau mewarisi pemerintahan yang sangat kacau. Juga ketegangan politik akibat pembunuhan Uthman. Keluarga Umayyah menguasai hampir semua kerusi pemerintahan. Dari 20 gabenor yang ada, hanya Gabenor Iraq iaitu Abu Musa Al-Asyari aja yang bukan dari keluarga Umayyah. Mereka menuntut Ali untuk mengadili pembunuh Khalifah Uthman. Tuntutan demikian juga banyak diajukan oleh tokoh lainnya seperti Saidatina Aisyah rha, juga Zubair dan Thalhah – dua orang pertama yang masuk Islam seperti Ali.
Kesan dari kematian Khalifah Uthman adalah amat sulit bagi Khalifah Ali untuk menyelesaikan terutamanya dalam masalah menjalankan pentadbiran. Untuk melicinkan pentadbiran, Khalifah Ali telah memecat jawatan pegawai-pegawai yang dilantik oleh Khalifah Uthman yang terdiri dari kalangan Bani Umayyah. Ini telah menimbulkan rasa tidak puas hati dikalangan Bani Umayyah.
Beliau juga telah bertindak mengambil kembali tanah-tanah kerajaan yang telah dibahagikan oleh Khalifah Uthman kepada keluarganya. Ini telah menambahkan lagi semangat kebencian Bani Umayyah terhadap Khalifah Ali. Oleh itu golongan ini telah menuduh Khalifah Ali terlibat dalam pembunuhan Khalifah Uthman. Beberapa orang menuding Ali terlalu dekat dengan para pembunuh itu. Ali menyebut pengadilan sulit dilaksanakan sebelum situasi politik reda.
Lanjutan daripada ini, berlaku peperangan Jamal dan Siffin
Sumbangan Saidini Ali sewaktu menjawat jawatan sebagai Khalifah juga tidak kurang banyaknya. Berikut merupakan huraian lanjut.
Penghujung Hayat Saidina Ali Karamalwahu Wajhah
Allah s.w.t. rupanya telah mentakdirkan bahwa  Ali r.a. harus meninggal karena pembunuhan pada waktu subuh tanggal 17 Ramadhan, tahun 40 Hijriyah. Ketika  Ali r.a. sedang menuju masjid, sesudah mengambil air sembahyang untuk melakukan shalat subuh, tiba-tiba muncul Abdurrahman bin Muljam dengan pedang terhunus.  Ali r.a. yang terkenal ulung itu tak sempat lagi mengelak. Pedang yang ditebaskan Abdurrahman tepat mengenai kepalanya. Luka berat merobohkannya ke tanah.  Ali r.a. segera diusung kembali ke rumah.
Saat itu semua orang geram sekali hendak melancarkan tindakan balas dendam terhadap Ibnu Muljam. Tetapi  Ali r.a. sendiri tetap lapang dada dan ikhlas, tidak berbicara sepatahpun tentang balas dendam. Tak ada isyarat apa pun yang diberikan ke arah itu. Semua orang yang berkerumun di pintu rumahnya merasa sedih. Mereka berdoa agar  Ali r.a. dilimpahi rahmat Allah yang sebesar-besarnya dan dipulihkan kembali kesehatannya. Semua mengharap semoga ia dapat melanjutkan perjuangan menghapus penderitaan manusia.
Dua hari kemudian beliau pun wafat. Peristiwa itu terjadi pada Ramadhan 40 Hijrah bersamaan 661 Masihi.