Friday, December 13, 2013

KEHEBATAN TAHAJJUD

Subhanalloh, Sholat Tahajjud juga Dapat Mencegah Kanker
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah
kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-
mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang
terpuji.” (QS. Al-Israa’: 79).

SHOLAT tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang
yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di
sisi Allah, tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran.
Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, Pensyarah IAIN
Surabaya, salah satu salat sunah itu bisa membebaskan
seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker. Tidak
percaya? “Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. Jika anda
melakukannya secara rutin, benar, khusyu’, dan ikhlas,
niscaya anda terbebas dari infeksi dan kanker,” ucap Sholeh.
Ayah dua anak ini bukan ‘tukang obat’ jalanan. 

Dia melontarkan pernyataanya dalam desertasinya yang berjudul
‘Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan
Respons ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan
Psiko-neuroimunologi.” Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil
meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada
Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang
dipertahankannya Selasa pekan lalu.
Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan
ibadah sholat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika
dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusyu’ dan
ikhlas. Secara medis, sholat itu menumbuhkan respons
ketahanan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M,
G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi
positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk
menanggulangi masalah yang dihadapi.


Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar
menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah
mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi rutinitas
sholat, ketepatan gerakan, kekhusyukan, dan keikhlasan.
Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini
sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini
dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang
selama ini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan
secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.
Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi
tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada
pagi hari normalnya anatara 38-690 nmol/liter. Sedang pada
malam hari-atau setelah pukul 24.00- normalnya antara
69-345 nmol/liter.

 “Kalau jumlah hormon kortisolnya normal,
bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan.
Begitu sebaliknya.” Ujarnya seraya menegaskan temuannya
ini yang membantah paradigma lama yang menganggap
ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.
Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian
terhadap 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok
Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya
23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud
selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa
yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat
dimulai pukul 02.00-03.30 sebanyak 11 rakaat, masing-
masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat.
Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga
laboratorium di Surabaya (Paramita, Prodia dan Klinika).
Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang
rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang
yang tidak melakukan tahajjud.

 Mereka yang rajin dan ikhlas
bertahajjud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan
individual untuk menanggulangi masalah.